RAD SITISEK 2025 Tekankan Peran Masyarakat dalam Pencegahan Anak Putus Sekolah

Jumat, 21 November 2025 06:05 WITA

Etamexpose.Id, Kutai Timur – Dalam peluncuran Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) Tahun 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur (Kutim) menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam pencegahan Anak Tidak Sekolah (ATS).

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kesadaran orang tua, RT, dan perangkat desa.

Menurut Mulyono, banyak kasus ATS yang dipicu oleh faktor internal keluarga, seperti kurangnya pemahaman tentang pentingnya pendidikan, budaya bekerja sejak kecil, atau keengganan untuk melanjutkan sekolah.

Baca juga  Kuota Starlink Kini Reset Tiap Akhir Bulan, Sekolah Diminta Disiplin Kelola Internet

Untuk itu, kampanye literasi pendidikan menjadi bagian utama dalam RAD SITISEK tahun ini.

“Pendidikan adalah investasi keluarga, bukan hanya program pemerintah,” tegasnya.

RAD SITISEK memuat strategi edukasi masyarakat melalui sosialisasi terpadu, pelibatan tokoh agama, serta peningkatan peran PKK dalam mengedukasi ibu-ibu mengenai hak pendidikan anak.

Program tersebut dilaksanakan bersamaan dengan intervensi formal seperti beasiswa, kelas filial, dan bantuan seragam.

Data Pusdatin per Maret 2025 menunjukkan, Kutim memiliki 13.411 ATS serta angka ini dianggap tinggi dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan struktural.

Baca juga  Benahi Pendidikan Sejak Dini, Kutim Siapkan Regulasi PAUD Wajib

Mulyono menilai perubahan pola pikir masyarakat adalah kunci pencegahan agar angka ATS tidak kembali meningkat setelah intervensi dilakukan.

Melalui gerakan SITISEK, Disdikbud menargetkan jumlah ATS dapat ditekan melalui sinergi antara pendidikan formal, nonformal, keluarga, dan komunitas.

Pendekatan dilaksanakan melalui penguatan pos pendidikan di RT dan desa untuk mempercepat pendataan serta pelaporan kasus ATS baru.

Selain itu, Disdikbud memperkuat fungsi guru kunjung dan relawan pendidikan di wilayah terpencil.

Mereka bertugas memastikan keberlangsungan belajar anak-anak yang tidak bisa mengakses sekolah reguler karena masalah jarak atau ekonomi.

Baca juga  Layanan Gigi Puskesmas Teluk Lingga Diperkuat, Tetap Optimal Meski Beroperasi di Gedung Sementara

Program ini menjadi jembatan penting antara masyarakat dan pemerintah.

Masyarakat juga didorong melaporkan potensi ATS untuk mendapatkan bantuan secepatnya. Sistem pelaporan ini terintegrasi dalam forum desa sehingga evaluasi dapat dilakukan secara berkala.

Dengan menempatkan masyarakat sebagai elemen utama, Kutim berharap mampu mencegah lahirnya generasi ATS baru.

Peluncuran RAD SITISEK 2025 menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan anak Kutim.(ADV)

Bagikan:
Berita Terkait