Kutim Abadikan Warisan Budaya Lewat Buku Daerah, Museum Jadi Pusat Literasi Lokal

Minggu, 16 November 2025 02:42 WITA

Etamexpose.Id, Kutai Timur – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus berupaya memperkuat pelestarian budaya lokal melalui pendekatan literasi. Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah penyusunan buku daerah yang merangkum berbagai kegiatan dan kekayaan kebudayaan lokal.

Buku-buku tersebut nantinya akan dipajang dan menjadi koleksi tetap di museum daerah. Kehadirannya diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat, pelajar, hingga generasi muda yang ingin mengenal lebih dalam identitas budaya Kutai Timur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, Mulyono, menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai bentuk dokumentasi sekaligus edukasi.

“Kami ingin setiap aktivitas budaya yang pernah digelar tidak hanya menjadi peristiwa sesaat, tetapi terdokumentasi dengan baik dan bisa dipelajari lintas generasi,” ungkapnya.

Baca juga  Pemkab Kutai Timur Perkuat Kualitas Perwasitan Lewat Pelatihan Wasit Perbakin

Saat ini, Disdikbud Kutim telah memiliki tiga buku daerah yang siap dipamerkan. Salah satu buku tersebut mengangkat Festival Marukangan, sebuah kegiatan budaya yang merepresentasikan kekayaan tradisi lokal dan nilai-nilai kearifan masyarakat setempat.

Menurut Mulyono, penyusunan buku daerah dilakukan dengan pendekatan naratif dan visual agar mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Tidak hanya memuat laporan kegiatan, buku tersebut juga menampilkan sejarah, makna budaya, serta dokumentasi foto yang memperkaya isi.

Keberadaan buku daerah di museum juga diharapkan dapat menghidupkan fungsi museum sebagai ruang belajar. Museum tidak lagi sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi pusat literasi budaya yang interaktif.

Baca juga  Stadion Kudungga Tampil Lebih Modern, Fasilitas Olahraga Gratis Kini Dinikmati Warga

Disdikbud Kutim menilai langkah ini penting, terutama di tengah arus modernisasi yang berpotensi menggeser nilai-nilai budaya lokal. Dengan dokumentasi tertulis, budaya daerah memiliki rekam jejak yang kuat dan tidak mudah dilupakan.

Selain Festival Marukangan, sejumlah kegiatan budaya lain direncanakan akan segera dibukukan. Setiap buku akan disusun secara tematik, menyesuaikan dengan karakter dan kekhasan budaya yang diangkat.

Proses penyusunan buku melibatkan pelaku budaya, tokoh adat, serta tim dokumentasi agar informasi yang disajikan akurat dan merepresentasikan nilai budaya secara utuh.

Mulyono menegaskan bahwa buku daerah ini bukan hanya arsip pemerintah, tetapi milik masyarakat Kutai Timur. “Kami ingin buku-buku ini menjadi jendela pengetahuan tentang jati diri daerah, sekaligus kebanggaan bagi masyarakat,” katanya.

Baca juga  Damkar Kutim Masih Dipandang Sebelah Mata, Adriansyah Tegaskan Perlu Revolusi Paradigma

Ke depan, Disdikbud Kutim menargetkan penerbitan buku daerah secara berkelanjutan. Setiap tahun, kegiatan budaya yang dinilai strategis akan dirangkum dan dibukukan sebagai bagian dari warisan intelektual daerah.

Langkah ini juga diharapkan dapat mendukung dunia pendidikan, khususnya sebagai bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah. Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenal budaya dari cerita lisan, tetapi juga melalui sumber tertulis yang sistematis.

Melalui program buku daerah ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menegaskan komitmennya dalam menjaga, merawat, dan mewariskan kebudayaan lokal agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.(ADV)

Bagikan:
Berita Terkait