Etamexpose.Id, Kutai Timur – SD Negeri 4 Sangatta Utara menunjukkan bahwa penanganan kasus perundungan tidak selalu harus keras dan menghukum. Dengan mengedepankan pendekatan kekeluargaan dan dialog, sekolah ini berhasil membangun suasana belajar yang damai dan saling menghargai.
Kepala Sekolah Heri Junaidi mengungkapkan, pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa setiap anak memiliki karakter dan latar belakang berbeda. Saat terjadi perselisihan, sekolah berupaya menjadi mediator yang menenangkan, bukan sekadar pemberi sanksi.
“Kami tidak ingin anak takut datang ke sekolah. Kami ingin mereka paham kenapa perbuatannya salah, dan bagaimana memperbaikinya,” ujar Heri.
Dalam setiap penanganan, siswa yang terlibat dipanggil bersama orang tua untuk mendapatkan pembinaan langsung. Mereka kemudian membuat surat pernyataan tertulis agar tidak mengulangi kesalahan. Guru juga memantau perkembangan perilaku anak selama beberapa minggu ke depan.
Selain penanganan, SDN 4 Sangatta Utara juga fokus pada pencegahan melalui edukasi karakter dan empati. Program Sekolah Ramah Anak menjadi wadah bagi guru untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, sopan santun, dan tanggung jawab sosial.
“Kami percaya bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada sanksi. Anak-anak perlu diajak berdialog, bukan dimarahi,” tambah Heri.
Pihak sekolah bahkan membuat lembar evaluasi anti-bullying untuk memantau dinamika siswa di kelas. Jika ditemukan anak yang merasa tidak nyaman, guru segera melakukan pendekatan personal.
Dengan sistem ini, SDN 4 Sangatta Utara berhasil menjaga lingkungan sekolah tetap kondusif, tanpa perlu tindakan disipliner yang berlebihan.
“Kami ingin anak-anak tumbuh dalam suasana penuh kasih, bukan ketakutan,” pungkasnya.(ADV)





